Blogger Widgets PUISIKU YANG TERPENDAM: Agustus 2013

Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 30 Agustus 2013

Mimpi yang Hilang

 ( Nur Muhammad Hidayat )

dahulu kita pernah bermimpi
disaat nanti
kitaakan bertemu kembali
dan kita akan memulai hidup baru

tapi.....
ternyata semua
impian kita telah musnah

engkau yang dahulu
berucap kepadaku akan menjalin
hubungan kembali denganku
tapi kenyataannya tak sama

engkau telah berpaling dengan yang lain
sedangkan aku
selalu menunggu impian yang kita ucap bersama

entah kapan....
impian itu akan bermuara indah
yang pasti disini aku
masih setia menunggu impian itu

Romansa Dua kota

 ( Nur Muhammad Hidayat )

kau yang disana
aku yang disini
terpisah jarak dua kota

sejak kau kumiliki
hanyalah suaramu
melepa rinduku padamu

waktu berlalu
kau kian di hati
ku tak ingin kehilanganmu

mungkinkah akan menyatu
cinta kita dalam nyata
munkinkah terjadi.......

Kupuingkan Renjana Hari Ini

 ( Nur Muhammad Hidayat )

kusandarkan letih
di penghujung malam
berat beban hari ini
ku gambarkan dalam lamunan

segala kekurangan adalah impian
tak mestinya kau purukkan
dalam perlakuan
aku yang terbiar
hatiku terluka ini ku kisahkan

andai ku tantang matahari
hanya kan silaukan inderaku
sedang ku tahu
ada benarnya maksudmu
tk seharusnya kupungkiri

di ruang hening
ku hilangkan cahaya
di pembaringanku menjadi gundahku
semoga esok beri kesempatan
untuk benahi ku

Hati Terluka

 ( Nur Muhammad Hidayat )

tahukah kamu perihnya hati terluka
ini yang tengah kurasakan
tak di cintaimu

dulu perhatianmu
seakan beri harap untuk cintaku
hari ke hari kubangun mimpi
kau jadi milikku

andai saja kau  jadi diriku
pasti kau akan berfikir
tuk permainkanku

andaikan saja ku tahu dari dulu
takkan ku tanam cinta
kan ku buang rasa ini
dan lupakanmu

hati terluka
teriris cintamu
perihnya tak kuasa
kutahankan.

Kembalilah Ke Hatiku

( Nur Muhammad Hidayat )

rapuh daun hatimu
terkoyah kasar sentuhanku
meremuk kehilangan harga
telah kubuat kau begitu

hari-hari berganti
merasuk nurani di celah sadarku
tak seharusnya ku begini
menyikapi maksudmu

di hatimu yang terluka
ku lihat bara di matamu
tergurat perih di pesanmu
akan pergi tinggalkanku
dan takkan kembali

maafkanku telah lukaimu
setelah kau pergi meninggalkanku
kini membuka ruang sadarku
tersimak makna kehilangan mu

dimana entah kemana
ragamu berada dan hatimu
di bumi manapun kau kini
kembalilah padaku

Taubat Ku

 ( Nur Muhammad Hidayat )

ku bertapa di keheningan malam
mencari arti makna hidup
yang kian lama tanpa tujuan
sendiri dalam kesepian
tanpa ada satu teman

rona-rona cinta yang hilang
seakan terbawa arus sungai terjal
masih membekas dalam ingatan
ketika aku salah tujuan

kini izinkan aku kembali ke jalan-MU
kembali ke jalan ridho-MU
izinkan aku selalu menyebut nama-MU
disetiap hembusan nafas ku

di atas sajadah ini aku bersumpah
memohon ampunan-MU
saat aku jauh dari-MU
engkaupun menjauh dariku
aku lupa akan cinta-MU

Kubasuh Luka Hati

( Nur Muhammad Hidayat )

tak masuk logika
alasan kau tuang
untuk yakini aku
menjadi kekasih setia

segala rasa menghampa
tak berelung di jiwa
bahagia yang kuimpikan
hanyalah dusta untuk dirimu saja

dan kini kubasuh luka hati
dengan air mataku ini
perihnya rambati
buluh nadi ku ini

dan kini ku tutup pintu hati
dengan arang kecewa
agar tiada lagi
yang kan lukaiku

tetes air mata
genangi kamarku
masih ada cinta yang ku cerna

Cinta Terakhir Untuk Selamanya

 ( Nur Muhammad Hidayat )

musim penghujan
basahi jiwaku
bawa kesejukan nurani
damaikan relung hatiku

badaimu telah ku lalui
menyisakan dewasaku
bahwa cinta suci
datang dari hati dan ketulusan
tanpa naungan keinginan yang lain

kuhela nafas panjang
menatapi batinku
akankah terisi
hati nan murni mengasihi
betapa ku rindu

kini tak mudah bagiku
untuk jatuh cinta lagi
cukup sudah hatiku
tergoras luka perih

oh tuhan tolong aku
nyatakanlah segala doa dariku
beri aku cinta terakhir untuk selamanya

Purnama Menyepi

 ( Nur Muhammad hidayat )

seratus purnama cinta kita
bersaksi janji pada bintang
kan selalu berdua

bahagiamu adalah damaiku
sedihmu adalah lukaku
kukan temani hidumu
untuk selamanya

ketika emas permata
tak mampu kuberi untukmu
mereka tak restui kita
barakan air matamu di bahuku

terpaksa kuakhiri purnama
untuk tak berrsamaku lagi
di hening kamar yang terkunci
ku jeritkan luka menyesali dir

TARIAN ILALANG

jalan lenggang yang ku tempuh
tandus dan menggersangkan
tarian sunyi ilalang
kiri kanan candi kebisuan

kini setelah kau pergi
melangkah tinggalkan puing
cinta kita yang diterjang
banjir air matamu

tingallah ku sendiri
bersama debu cinta
hidup ini harus lebih indah
meski tanpa adamu lagi

kucoba memusnahkan
segala perintang jiwa
ku ingin bahagia
rnyahkan segala gundah
Cinta memang tak mesti berakhir indah

Kuakhiri Air Mata

( Nur Muhammad hidayat )

dulu benih kusemai
di ladang hatimu ku jaga selalu
berharap kan ku tuai
tumbuhan Cintamu

segala cara telah ku coba
untuk dapatkan hatimu
namun tak kunjung jua
kau mengerti rasaku

betapa sakitnya hatiku ini
sungguh memerihnya lukaku ini
Cinta yang ku tanam pada mu
kau mekarkan di Hati yang lain

teganya kau buat aku begini
kau hancurkan isi hati ini
di sudut kamarku yang sepi
ku merintih

kini kubakar saja
puisi cintamu untukku
yang seharusnya tak ada
kutulis untukmu

penyesalan kini membakar hati
tak terpendam rintik hujan
baiknya ku akhiri air mata
untuk lupakan cintaku ini
pada dirimu yang kehilangan harga

Prahara Hati

( Nur Muhammad hidayat )

kukira semua ini
akan bermuara indah
dirasa cinta nan menggunung
apapun telah kutunaikan untukmu

tak terusik keraguan
yang akan gundahkan relungku
dengan kukuh ku telah memilih
engkau yang terbaik
untuk temani hidupku

sekejap badai
menerjang
menghempas damaiku
runtuhkan bangunan impianku
untuk jadikan cinta terakhirku

tega.....
teganya nuranimu buatku begini
kau semai cinta dengan yang lain
sedangkan aku ada
betapa murahnya dirimu

perih......
perihnya hatiku
bila memang kutak lagi
bersemayam di hatimu
katakan saja
namn jangan kau duakan cintaku

andaikan semua ini tak berlaku
mungkin kini kita telah bahagia
di urai embun sejuk negeri pelangi

kukikis saja
semua rasa hinggap
yang sempat melekat
untuk enyahkan cintaku untukmu

Senin, 19 Agustus 2013

Titipkan Salamku

 ( Nur muhammad Hidayat )

aku hanya ingin bertanya
kepada mereka wakil rakyat
yang harusnya memboyong
semua lapisan masyarakat

apakah Negeri ini
sudah Merdeka Pak....
aku selalu bertanya-tanya
pada Hati kecilku ini

mereka bilang kita telah
Merdeka.... tapi nyatanya
hanya Memerdekakan
golongan-golongan tertentu saja

hatiku sangat Miris
ketika melihat Veteran
yang jaya pada masanya
yang kini telah terlupakan

asalkan Bapak tau
mereka bertaruh nyawa pak...
demi merdekanya Negeri ini

dan kini setelah Merdeka
mereka hanya menerima penghargaan
tanpa menerima santunan
yang mereka harapkan

kemanakah
dana tiap tahun yang dikeluarkan
untuk semua masyarakat
di Negeri ini

saya hanya menitip pesan
jangan sia-siakan mereka pak.....
kita takkan pernah bisa
seperti ini tanpa pengorbanan mereka

Kamis, 15 Agustus 2013

Roda Berputar

( Nur Muhammad Hidayat )

karena dengan adanya
waktu kita bisa
berjumpa dan menjalin
sedikit keharmonisan dengan mu

tapi.....
oleh waktu itulah
kita dipisahkan untuk
sementara bahkan selamanya

dan aku telah
mengira semua itu
akan terjadi pada kita
bahkan pada semua insan

dimana ada pertemuan
di sanalah ada perpisahan
hanya kata-kata itu
yang membuatku sadar

dan jika sebelumnya
aku mencintaimu dengan ikhlas
maka sekarangpun kehilanganmu
aku harus bisa ikhlas

selamat tinggal
buat kamu yang disana
semoga engkau dapat mengenal
orang yang lebih baik dariku


Dimanakah Harga Dirimu

( Nur Muhammad Hidayat )

sakit memang....
jika aku harus
mengungkit-ngungkit semua
kesalahan yang kau buat

dan yang paling sakit
kau talah berkata
kepadaku bahwa
sudi najis menjalin hubungan denganku

kau menjalin cinta
dengan yang lain
sedangkan aku kau
anggap apa aku ini

tapi kau benar-benar
tak tau malu
kau kembali lagi kepadaku
setelah kau gagal membina cinta dengannya

tapi.....
aku lebih baik putih tulang
dari pada putih mata
karena harus melihat sisa cintamu lagi


Rabu, 14 Agustus 2013

Harapanku yang Terakhir

( Nur Muhammad Hidayat )

masih ingatkah......
kau yang bisikkan
kata-kata cinta
di telingaku

dan kini....
kata-kata itu
masih terngiang di kedua
talingaku

betapa mesranya
sikap yang kau berikan
kepada sehingga hatiku
luluh di hatimu

jangan sampai.....
kebahagiaan ini berakhir sedih
seperti yang sudah
aku alami

dan aku berharap
kita bisa melanjutkan hubungan
kita sampai janur kuning terlintang

atau bahkan
sampai kita berdua
menutup mata...... 

Dusta di Balik Cinta

( Nur Muhammad Hidayat )

jika kita bicara tentang rupa....
sudah pasti
dia akan lebih unggul
dari saya

tapi jika kita.....
bicara tentang kesetiaan
mungkin saja aku bisa
lebih unggul darinya

bukankah kamu.....
pernah berkata enkau
lebih suka dengan
yang namanya setia

tapi apa.....
kini kau telah berdusta
dengan kata-katamu
yang menjajikan itu

jangan sampai....
kau berharap bahwa
kesetiaanku akan
kembali kepadamu

karena kau telah
menyimpan DUSTA di BALIK CINTA
dan aku takkan
ingin lagi mengenal yang namaya CINTA